Mencintai Jenderal Termuda Indonesia
Oleh Ade Jaja Nurjaman.
Satu abad 24 bulan, engkau terlahir mendahuluiku, tepatnya 29 tahun sebelum negeri ini merdeka Allah mentakdirkan engkau untuk hadir di negeri ini, hadir sebagai pelita, alarm untuk seluruh anak bangsa, bahwa negeri ini kaya raya, bukan hanya sumber daya, tapi negeri ini penuh dengan para kesatria. Dari berjuta-juta kesatria itu diantaranya adalah Anda, anak laki-laki dari Bapak Karsid Kartawiraji dan Ibu Siyem. Aku pastikan bahwa kesatria itu adalah Anda Jenderal Soedirman, yang kelak gelora perjuangannya memenuhi alam Aceh sampai Papua raya.
Soedirman kecil lebih sering tinggal bersama seorang camat Raden Cokrosunaryo, yang merupakan pamannya sendiri, bukan tanpa alasan, kondisi ekonomi keluarga yang tidak bersahabat, mengharuskan Karsid merelakan sang Jenderal untuk diadopsi sang camat, demi terpeliharanya darah kesatria yang dimiliki Soedirman muda.
Kondisi bangsa terjajah memiliki realitas kehidupan yang hampir serupa, rakyat dijauhkan dari pendidikan, sumber daya alam dikeruk tanpa disisakan, pimpinan pribumi dirayu untuk dijadikan umpan untuk diadudombakan, dibina, dibeli agar menjadi pengkhianat tanpa prikemanusiaan, hatinya dibalut kemewahan agar rasa nasionalisme, dan kebangsaan hilang dari ingatan.
Soedirman remaja tidak terbawa arus penjajahan, nuraninya bersih tidak meleleh dengan rayuan dan himpitan keadaan, mulai dari HIS, Taman Siswa, Sekolah Wirotomo diikuti oleh Soedirman tanpa keluhan karena rasa tidak aman. Bahkan Raden Muhammad Kholil, Soedirman jadikan panutan keagamaan. Hizbul Wathan milik Muhammadiyah-pun Soedirman ikut andil saat mulai didirikan. Nyaris sempurna memang Jenderal yang satu ini, gigih akan pendidikan, semangat mendalami ilmu keagamaan, loyal dalam organisasi bahkan saat lulus dari Wirotomo Soedirman jadi pimpinan Hizbul Wathan cabang Cilacap.
Rasa haus akan ilmu terinternalisasi dengan jelas pada diri sang Jenderal, itu sangat terbukti ketika Jenderal melanjutkan pendidikan Kweekscholl sekolah calon guru milik Muhammadiyah, walaupun pada akhirnya harus berhenti karena terkendala biaya.
Terlihat nyata benih keistimewaan yang dimiliki oleh Soedirman, jiwa leadership mapan, organisatoris teladan, guru panutan, dan Islam berkemajuan menjadikan dirinya salah satu tokoh kebangsaan, bahkan konon Soedirman telah menjadi Jenderal pada usia 29-an. Karir menjadi Jenderal tidak datang dengan mudah, tapi sang Jenderal memulainya dengan menjadi seorang guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah, Aktivis Pemuda Muhammadiyah, dan akhirnya bergabung dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air). Semenjak masuk dalam tentara PETA karir sang Jenderal melejit, mulai menjadi komandan Batalyon Kroya, Panglima Divisi V Banyumas dan akhiranya menjadi panglima TNI. Terlalu banyak tinta yang harus dihabiskan, saat saya akan menuliskan kekaguman-kekaguman saya terhadap sang Jenderal.
Ketika saya mengeja nama S O E D I R M A N, lantas apa yang ada dalam pikiran Anda? Jenderal Soedirman merupakan Panglima Besar TNI Indonesia pertama yang terkenal dengan keshalihannya, dikagumi karena sifat heroik yang dimilikinya, disegani karena kegigihan dalam memaksimalkan kapasitas keilmuannya, disegani musuh karena ketinggian rasa nasionalisme yang dimilikinya.
Jika Anda membaca beberapa referensi , maka Anda akan menemukan hal yang sama dengan apa yang akan saya tuliskan, yaitu sosok pemuda penuh kecerdasan, inspiratif, patriotik dan deretan sifat-sifat kebaikan lainnya yang sangat layak untuk kita tiru sebagai anak bangsa khususnya pelajar muslim.
Sebagai contoh sikap yang perlu kita teladani dari seorang Jenderal Soedirman adalah seperti pernyataan yang disampaikan oleh Jenderal Gatot Nurmantyo dalam sebuah kesempatan tentang ajimat yang dimiliki oleh sang Jenderal Soedirman. Ajimat ini mampu menjadi washilah/perantara diselamatkannya Jenderal Soedirman dari kepungan Belanda pada masa penjajahan. Ajimat yang dimiliki oleh Jenderal Soedirman adalah amal kebaikan yang istiqomah yaitu tidak pernah lepas dari wudhu, selalu shalat awal waktu, dan beramal dengan tulus dan ikhlas. Sebagai seorang pelajar muslim tentunya ajimat ini harus diamalkan dengan istiqomah. Yang lebih mengagumkan lagi dari pribadi Jenderal Soedirman adalah beliau mampu memimpin gerilya dalam keadaan kesehatan yang sangat buruk, yaitu dengan satu paru-paru, hal ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang memilki mental rendah dan cengeng, pasti hal ini mampu dilakukan oleh orang-orang hebat, dan Jenderal Soedirman mampu melakukannya.
Tanda lain bahwa Jenderal Soedirman adalah seorang Jenderal sejati dan merupakan orang besar, patung Jenderal Soedirman dibangun di kota Tokyo Jepang, hal ini mengisyaratkan bahwa jasa, jiwa, dedikasi perjuangan Jenderal tidak hanya diakui oleh bangsa Indoensia bahkan tingkat dunia. Hal yang unik dari Jenderal adalah namanya paling banyak dipakai untuk nama jalan raya, gedung bahkan gambarnya digunakan untuk uang kertas di Indonesia, itu menunjukan betapa berjasanya Jenderal Soedirman terhadap bangsa Indonesia, mudah-mudah keteladan dari Jenderal mampu ditiru oleh seluruh anak bangsa..
Satu abad 24 bulan, engkau terlahir mendahuluiku, tepatnya 29 tahun sebelum negeri ini merdeka Allah mentakdirkan engkau untuk hadir di negeri ini, hadir sebagai pelita, alarm untuk seluruh anak bangsa, bahwa negeri ini kaya raya, bukan hanya sumber daya, tapi negeri ini penuh dengan para kesatria. Dari berjuta-juta kesatria itu diantaranya adalah Anda, anak laki-laki dari Bapak Karsid Kartawiraji dan Ibu Siyem. Aku pastikan bahwa kesatria itu adalah Anda Jenderal Soedirman, yang kelak gelora perjuangannya memenuhi alam Aceh sampai Papua raya.
Soedirman kecil lebih sering tinggal bersama seorang camat Raden Cokrosunaryo, yang merupakan pamannya sendiri, bukan tanpa alasan, kondisi ekonomi keluarga yang tidak bersahabat, mengharuskan Karsid merelakan sang Jenderal untuk diadopsi sang camat, demi terpeliharanya darah kesatria yang dimiliki Soedirman muda.
Kondisi bangsa terjajah memiliki realitas kehidupan yang hampir serupa, rakyat dijauhkan dari pendidikan, sumber daya alam dikeruk tanpa disisakan, pimpinan pribumi dirayu untuk dijadikan umpan untuk diadudombakan, dibina, dibeli agar menjadi pengkhianat tanpa prikemanusiaan, hatinya dibalut kemewahan agar rasa nasionalisme, dan kebangsaan hilang dari ingatan.
Soedirman remaja tidak terbawa arus penjajahan, nuraninya bersih tidak meleleh dengan rayuan dan himpitan keadaan, mulai dari HIS, Taman Siswa, Sekolah Wirotomo diikuti oleh Soedirman tanpa keluhan karena rasa tidak aman. Bahkan Raden Muhammad Kholil, Soedirman jadikan panutan keagamaan. Hizbul Wathan milik Muhammadiyah-pun Soedirman ikut andil saat mulai didirikan. Nyaris sempurna memang Jenderal yang satu ini, gigih akan pendidikan, semangat mendalami ilmu keagamaan, loyal dalam organisasi bahkan saat lulus dari Wirotomo Soedirman jadi pimpinan Hizbul Wathan cabang Cilacap.
Rasa haus akan ilmu terinternalisasi dengan jelas pada diri sang Jenderal, itu sangat terbukti ketika Jenderal melanjutkan pendidikan Kweekscholl sekolah calon guru milik Muhammadiyah, walaupun pada akhirnya harus berhenti karena terkendala biaya.
Terlihat nyata benih keistimewaan yang dimiliki oleh Soedirman, jiwa leadership mapan, organisatoris teladan, guru panutan, dan Islam berkemajuan menjadikan dirinya salah satu tokoh kebangsaan, bahkan konon Soedirman telah menjadi Jenderal pada usia 29-an. Karir menjadi Jenderal tidak datang dengan mudah, tapi sang Jenderal memulainya dengan menjadi seorang guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah, Aktivis Pemuda Muhammadiyah, dan akhirnya bergabung dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air). Semenjak masuk dalam tentara PETA karir sang Jenderal melejit, mulai menjadi komandan Batalyon Kroya, Panglima Divisi V Banyumas dan akhiranya menjadi panglima TNI. Terlalu banyak tinta yang harus dihabiskan, saat saya akan menuliskan kekaguman-kekaguman saya terhadap sang Jenderal.
Ketika saya mengeja nama S O E D I R M A N, lantas apa yang ada dalam pikiran Anda? Jenderal Soedirman merupakan Panglima Besar TNI Indonesia pertama yang terkenal dengan keshalihannya, dikagumi karena sifat heroik yang dimilikinya, disegani karena kegigihan dalam memaksimalkan kapasitas keilmuannya, disegani musuh karena ketinggian rasa nasionalisme yang dimilikinya.
Jika Anda membaca beberapa referensi , maka Anda akan menemukan hal yang sama dengan apa yang akan saya tuliskan, yaitu sosok pemuda penuh kecerdasan, inspiratif, patriotik dan deretan sifat-sifat kebaikan lainnya yang sangat layak untuk kita tiru sebagai anak bangsa khususnya pelajar muslim.
Sebagai contoh sikap yang perlu kita teladani dari seorang Jenderal Soedirman adalah seperti pernyataan yang disampaikan oleh Jenderal Gatot Nurmantyo dalam sebuah kesempatan tentang ajimat yang dimiliki oleh sang Jenderal Soedirman. Ajimat ini mampu menjadi washilah/perantara diselamatkannya Jenderal Soedirman dari kepungan Belanda pada masa penjajahan. Ajimat yang dimiliki oleh Jenderal Soedirman adalah amal kebaikan yang istiqomah yaitu tidak pernah lepas dari wudhu, selalu shalat awal waktu, dan beramal dengan tulus dan ikhlas. Sebagai seorang pelajar muslim tentunya ajimat ini harus diamalkan dengan istiqomah. Yang lebih mengagumkan lagi dari pribadi Jenderal Soedirman adalah beliau mampu memimpin gerilya dalam keadaan kesehatan yang sangat buruk, yaitu dengan satu paru-paru, hal ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang memilki mental rendah dan cengeng, pasti hal ini mampu dilakukan oleh orang-orang hebat, dan Jenderal Soedirman mampu melakukannya.
Tanda lain bahwa Jenderal Soedirman adalah seorang Jenderal sejati dan merupakan orang besar, patung Jenderal Soedirman dibangun di kota Tokyo Jepang, hal ini mengisyaratkan bahwa jasa, jiwa, dedikasi perjuangan Jenderal tidak hanya diakui oleh bangsa Indoensia bahkan tingkat dunia. Hal yang unik dari Jenderal adalah namanya paling banyak dipakai untuk nama jalan raya, gedung bahkan gambarnya digunakan untuk uang kertas di Indonesia, itu menunjukan betapa berjasanya Jenderal Soedirman terhadap bangsa Indonesia, mudah-mudah keteladan dari Jenderal mampu ditiru oleh seluruh anak bangsa..
Comments
Post a Comment